Home / BERITA UTAMA / Beda NU dan HTI : Menolak Klaim Seperjuangan

Beda NU dan HTI : Menolak Klaim Seperjuangan

(Oleh : Muhammad Habib Mustofa*)

Dengan dicabutnya status badan hukum HTI oleh Direktorat Jenderal Administrasi  Hukum Umum Kementrian Hukum dan HAM, pemerintah akhirnya resmi membubarkan organisasi pengusung khilafah tersebut. Keputusan pemerintah itu sebenarnya terbilang lambat bila dibandingkan dengan negara lain yang sudah lebih dulu melarang Hizbut Tahrir seperti Malaysia, Turki, Pakistan, Suriah dan Libya.

NU sebagai organisasi yang berkomitmen pada NKRI menyambut baik langkah tegas pemerintah. Bagi NU, sebagaimana disepakati pada Munas Alim Ulama tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984, Pancasila dan NKRI sudah final. Dan sebagai langkah kongkret atas komitmen ini, NU siap berhadapan dengan perkempulan apapun yang mencoba mengganggu kedaulatan bangsa, termasuk HTI.

Bila ditilik dari beberapa sisi, antara NU dan HTI sebenarnya memiliki kedekatan dan kesamaan. Hizbut Tahrir didirikan di Palestina oleh Syekh Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani (w 1977 M) yang tak lain adalah cucu Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w 1932 M) dari garis ibu. Di samping hubungan nasab, Syekh Taqiyuddin juga tumbuh dalam didikan Syekh Yusuf al-Nabhani meskipun akhirnya Syekh Taqiyuddin menyelisihi pandangan kakeknya.

Syekh Yusuf merupakan ulama Sunni yang masuk dalam deretan silsilah keilmuan Nahdhatul Ulama dan disebut sebagai guru dari Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari sewaktu belajar di Mekah. Karya-karya Syekh Yusuf banyak menjadi rujukan warga Nahdhiyyin seperti kitab Syawahid al-Haqq, Afdhal al-Shalawat ‘ala al-Sayyid al-Sadat, Jami’ Karamat al-Auliya’ dan lainnya.

Kedekatan inilah yang kemudian sering dimanfaatkan oleh simpatisan HTI untuk pembenaran dakwah khilafahnya. Mereka ingin menciptakan opini bahwa NU adalah saudara sendiri, saudara sepengetahuan dan saudara seperjuangan. Dalam sejumlah kegiatan dakwahnya mereka kerap mencatut nama besar NU seperti membuat spanduk bertuliskan, Warga Nahdhiyyin rindu Khilafah, Pagar Nusa Siap Mengawal Tegaknya Syariah dan Khilafah, dan lain sebagainya.

Kesamaannya, baik NU yang berpaham Asy’ariyyah-Maturidiyyah maupun HTI sama-sama terdaftar sebagai sekte sesat(firqah dhallah) oleh Salafi-Wahabi. Hal itu sebagaimana tertulis di dalam buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” karya Ust. Yazid Jawas, seorang da’i Wahabi, dan juga fatwa Syekh Albani yang mengatakan Hizbut Tahrir sebagai neo-Muktazilah. NU dan HTI satu penanggungan divonis sebagai ahli bid’ah.

Meski demikian, kedekatan dan kesamaan tersebut tidak bisa menjadikan keduanya satu perjuangan sebab perbedaan ideologi politik (fikrah siyasiyyah) yang cukup tajam. Bahkan tidak pula disebut sebagai satu pengetahuan sebab terdapat beberapa doktrin keagamaan yang asasi yang berbeda, seperti persoalan perbuatan manusia hubungannya dengan perbuatan Allahdimana Hizbut Tahrir cenderung berpendapat seperti kelompok Qadariyyah, kemudian soal bolehnya menyentuh perempuan yang bukan mahram menurut Hizbut Tahrir, dan lain sebagainya.

Dalam soal siyasah,NU menyatakan bahwa nasionalisme dan Pancasila adalah paham dan dasar bernegara yang legal secara syariat. Keduanya tidak bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan dengan Islam. Nasionalisme sendiri sebenarnya sudah dicontohkan oleh Baginda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dalam sebuah riwayat hadis fi’li disebutkan,

كَانَ إِذَ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِيْنَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا (رواه البخاري)

“Ketika Rasulullah –shallallahu a’laihi wa sallam– pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju ontanya, dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau menggerak-gerakkannya sebab cintanya kepada Madinah” (HR Imam al-Bukhari)

Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani selaku pensyarah menegaskan,

وفي الحديث دلالة على فضل المدينة وعلى مشروعية حبّ الوطن والحنين اليه

“Dalam hadis ini terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya”.

NU juga menganggap Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia yang fundamental. Semua sila yang tercantum dalam sila-silanya sangatlah sejalan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karenanya, NU sebagaimana yang dinyatakan oleh KH. Achmad Shiddiq menerima Pancasila menurut bunyi dan makna yang terkandung dalam Undang-Undang 1945 (bi al-lafdzi wa al-ma’na al-murad).

Sementa HTI menentang keras nasionalisme dan menganggapnya sebagai ideologi yang bertentangan dengan Islam. Dalam rubrik dialog di Majalah al-Wafie edisi 172 Tahun XV 1-31 Desember 2014, Ustadz Ismail Yusanto selaku jubir Hizbut Tahrir wilayah Indonesia menjelaskan,

“Hizbut Tahrir menolak nasionalisme. Islam dengan tegas menolak nasionalisme,” Lanjut Ismail, “Nasionalisme termasuk di antara seruan jahiliyyah”. Di lain tempat beliau juga mencoba mereduksi alasan perjuangan para pahlawan, ungkapnya,

“Para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Tjokroamino

to, KH. Hasyim Asy’ari dan lainnya, yang gagah berani berjuang melawan penjajah Belanda itu sesungguhnya didorong oleh semangat jihad, bukan oleh semangat nasionalisme sempit.” Lebih lanjut ia mengatakan, “Dengan kerangka ini kita bisa memahami lahirnya “resolusi jihad” KH. Hasyim Asy;ari.

Soal Pancasila, HTI menilainya sebagai falsafah kufur yang tak sejalan dengan Islam, falsafatu kufrin la tattafiqu ma’a al-Islam.Dan hukumnya wajib memisahkan diri dari hukum kufur.Kalaupun belakangan, setelah resmi dibubarkan, beberapa tokoh HTI kemudian angkat bicara menolak organisasinya dituduh sebagai anti-Pancasila, maka hal tersebut tak lebih dari sekedar pembelaan diri yang lebih mirip dengan taqiyyah (menyembunyikan identitas diri) sebab bertolakbelakang dengan kegiatan dakwah mereka selama ini yang tidak menghormati Pancasila sebagai dasar negera. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Ketua Rijalul Ansor PAC Losari Brebes dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Share Artikel
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    37
    Shares

About Oz

Baca Juga

Pembentukan Gerakan Pemuda Ansor Desa Dukuh Salam Kecamatan Losari

Losari (24/03/2019)“Dalam mengemban amanat, Ansor haruslah selalu mampu menjadi suri tauladan dan bijaksana dalam bertindak …

3 comments

  1. Mantap kyai…ijin share

  2. tarpidin99

    Share walau ayatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *