Home / ARTIKEL HIKMAH / APA KEDUA ORANG TUA RASULULLAH SAW. KAFIR?

APA KEDUA ORANG TUA RASULULLAH SAW. KAFIR?

Salah satu syarat seseorang dianggap mukallaf -sehingga ia terbebani kewajiban menjalankan syariat dan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat- adalah sampainya dakwah kepadanya sedang dia dalam keadaan normal penglihatannya dan atau pendengarannya. Maka dikecualikan daripada itu adalah orang yang tidak sampai kepadanya dakwah umpamanya sebab ia lahir dan hidup di puncak gunung atau di tengah hutan atau ia tidak bisa menerima dakwah sebab cacat. Adapun yang dimaksud dakwah di sini, sebagaimana pendapat yang ditahqiq oleh al-Allamah Imam al-Malawi, ialah dakwahnya rasul yang diutus untuknya. Sebab itulah, ahlu al-fatrah yakni orang-orang yang hidup di zaman kekosongan rasul atau ia hidup di zaman rasul yang bukan diutus untuknya adalah orang-orang yang selamat, meskipun mereka mengganti dan mengubah syariat serta menyembah berhala, Allah Swt. berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولا

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (QS al-Isra’ [17]: 15).

Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah -shallallah ‘alaihi wa sallam- sebab mereka berdua hidup di zaman kekosongan rasul (fatrah), mereka adalah orang-orang yang selamat dari siksa neraka. Di luar kondisi tersebut, keduanya bahkan seluruh kakek moyang Rasulullah Saw. adalah orang-orang suci yang terbebas dari kekufuran. Tentang hal ini al-Quran menyebutkan,

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud” (QS al-Syu’ara [26]: 219).

Rasulullah Saw. sendiri bersabda tentang kesucian nasabnya, “Aku senantiasa dipindah-pindah dari tulang rusuk yang suci ke rahim-rahim yang suci pula”. Ungkapan “yang suci” pada sabdanya tersebut merupakan petunjuk yang jelas akan ketauhidan para leluhur beliau . Sebab seandainya mereka bukan ahli tauhid (baca: musyrik) tentunya beliau tidak akan menyifatinya dengan “yang suci” seperti pada firman Allah Swt.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik adalah najis”(QS al-Taubah [9]: 28). Adapun adanya dua hadis ahad riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya yang secara lahir mengabarkan bahwa kedua orang tua Rasulullah Saw. tidak selamat di akhirat kelak, yaitu:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اسْتَأْذَنْتُ رَبّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأذِنَ لِي

Rasulullah Saw. bersabda, “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampunan bagi ibuku tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin kepada-Nya untuk berziarah ke kuburnya, dan Dia mengizinkanku”.

أَنّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: فِي النّارِ. فَلَمّا قَفّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النّارِ

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, di manakah ayahku? Rasulullah Saw. menjawab, “Di neraka!”. Ketika lelaki tadi pergi Rasulullah memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”

Maka kedua hadis tersebut harus ditakwili seperti berikut. Pada hadis pertama tidak tercantum jelas adanya pernyataan dari Rasulullah Saw. bahwa ibunya musyrik (kafir) dan akan masuk neraka. Beliau hanya mengabarkan tidak diberi izin memintakan ampunan. Ketiadaan izin tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa ibunya adalah seorang musyrik. Sebab seandainya ibunda beliau itu musyrik tentu tidak akan diperkenankan untuk menziarahinya karena tidaklah boleh menziarahi kuburan orang musyrik dan berbuat baik dengan mayit-mayit mereka.

Sementara pada hadis kedua, yang dimaksud oleh Rasulullah Saw. dengan “ayahku” adalah “pamannya”, Abu Thalib. Dalam masyarakat Arab memang sudah jamak menggunakan istilah “al-ab” (ayah) sementara yang dimaksud adalah “al-‘amm” (paman).

Cara lain menyikapi kedua hadis ahad tadi adalah dengan menolaknya. Kedua hadis tersebut tertolak sebab bertentangan dengan nash yang qath‘i (pasti benarnya) sebagaimana tertuang dalam surat al-Syu’ara ayat 219 dan juga hadis-hadis yang membicarakan kesucian nasab Rasulullah Saw. yang derajatnya sampai pada derajat mutawatir. Hal ini telah menjadi ketetapan para ulama di sepanjang zaman bahwa ketika ada hadis ahad yang bersebrangan dengan nash al-Quran atau ijmak, maka wajib untuk meninggalkan makna lahiriahnya. Imam al-Khathib al-Baghdadi menyatakan kaedah tersebut dalam al-Faqîh wa al-Mutafaqqih, “Ketika seorang perawi yang kredibel dan dapat dipercaya meriwayatkan hadis yang sanadnya bersambung (muttashil al-isnâd), maka periwayatannya bisa ditolak sebab beberapa hal, yaitu, bila bertentangan dengan nash al-Quran atau sunah mutawatirah. Dari situ dapat diketahui, bahwa hadis tersebut tidak memiliki asal atau dinaskh.” Wallahu a’lam.

Rujukan:

Shahih Muslim Al-Bayan al-Qawim, Syekh Ali Jumuah Nur al-Zhalam, Imam Nawawi al-Jawi Tuhfah al-Murid, Imam Ibrahim al-Baijuri

*Muhammad Habib Musthofa

Fb : Muhammad Habib Musthofa

Share Artikel
  • 34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    34
    Shares

About MZEEM

Baca Juga

Pembentukan Gerakan Pemuda Ansor Desa Dukuh Salam Kecamatan Losari

Losari (24/03/2019)“Dalam mengemban amanat, Ansor haruslah selalu mampu menjadi suri tauladan dan bijaksana dalam bertindak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *