Home / ARTIKEL HIKMAH / IMAM Al-ASY’ARI DAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

IMAM Al-ASY’ARI DAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Ahlussunnah wal Jamaah -selanjutnya Aswaja- disebutkan sebagai satu-satunya kelompok yang selamat (al-firqah al-nâjiyah), berkebalikan dengan kelompok-kelompok lainnya seperti Khawarij, Syi’ah, Murjiah dan Qadariyah dengan sempalan-sempalannya yang menyimpang (al-firqah al-dhallah). Di awal munculnya istilah Aswaja -yakni kurun akhir generasi sahabat-, ia dilabelkan kepada kelompok yang setia mengikuti ajaran Rasulullah -shallallah ‘alaihi wa sallam-. Baru pada kurun ketiga Hijriyah dan seterusnya ia dinisbatkan kepada para pengikut Imam al-Asy’ari (Asya’irah) dan Imam al-Maturidi (Maturidiyyah). Penisbatan tersebut dikarenakan Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi menjadi tokoh pembangkit yang getol dalam mengembalikan paham teologi sebagaimana masa Rasulullah Saw. dan para sahabat setelah sekian lama dirusak oleh kelompok ahli bid’ah. Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengungkapkan, “Mereka (Ahlussunnah wal Jamaah) dari generasi Khalaf adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi beserta para pengikutnya”.

Imam al-Asy’ari lahir pada tahun 260 H/ 873 M di Kota Bashrah. Namanya adalah Abu al-Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari. Dari nasabnya itu diketahui bahwa ia merupakan keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, seorang sahabat nabi yang menjadi ahli fikihnya para sahabat. Abu Musa al-Asy’ari sendiri berasal dari Yaman di mana hikmah bersumber dari sana. Rombongan dari Yaman lah yang datang menghadap Baginda Rasulullah Saw. kemudian bertanya tentang persoalan akidah yaitu mengenai awal mula yang ada di dunia yang lalu dijawab oleh Rasulullah Saw. “Allah telah ada pada saat segala sesuatu belum ada.” Imam al-Asy’ari secara genealogis mewarisi perhatian terhadap ilmu pengetahuan akidah dari kakek moyangnya tersebut.

Al-Asy’ari lahir dari keluarga yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah. Ayahnya, Ismail, adalah seorang ahli hadis di Bashrah. Imam al-Asy’ari kecil hidup dalam bimbingan akidah Aswaja melalui ayahnya dan guru-gurunya seperti Imam Zakariya bin Yahya al-Saji, Abu Khalifah al-Jumahi, Abdurrahman bin Khalaf al-Dhabbi, Sahal bin Nuh al-Bashri, Muhammad bin Ya’qub al-Maqburi dan lainnya. Paham Aswaja telah tertancap dalam benak dan kalbu al-Asy’ari selagi beliau masih kecil.

Di usianya yang kesepuluh tahun kejernihan akidahnya mulai terkontaminasi oleh paham asing dengan hadirnya sosok Abu Ali al-Jubba’i, seorang Muktazilah, yang menjadi ayah tirinya. Inilah awal perubahan akidah Imam al-Asy’ari dari Aswaja kepada Muktazilah. Dalam bimbingan al-Jubba’i Imam al-Asy’ari tumbuh menjadi seorang Muktazilah yang militan sekaligus menguasai detail doktrin-doktrinnya. Imam al-Asy’ari juga piawai dalam melakukan perdebatan melawan kelompok di luar Muktazilah hingga seringkali ia dipercaya oleh al-Jubba’i menggantikan posisi gurunya tersebut. Imam al-Asy’ari menjadi seorang Muktazilah sampai umur 40 tahun -atau selama tiga puluh tahun-.

Menginjak usianya yang keempat puluh Imam al-Asy’ari mulai merasa skeptis dengan kebenaran ajaran yang selama ini dianutnya. Beliau mengurung diri di rumahnya selama lima belas hari memikirkan hal itu. Setelah masa perenungan, pada hari Jumat Imam al-Asy’ari keluar dari rumahnya menuju Masjid Jami’ kemudian menaiki mimbar dan mengatakan kepada orang-orang, “Mulai saat ini, aku mencabut semua ajaran yang selama ini aku yakini”.

Diriwayatkan, dalam sebuah kesempatan Imam al-Asy’ari berdiskusi dengan gurunya, Abu Ali al-Jubba’i. Imam al-Asy’ari menanyakan tentang nasib tiga orang; muslim, kafir, dan anak kecil yang meninggal.

“Menurut guru bagaimanakah kelak nasib orang muslim, kafir, dan anak kecil?” Tanya Imam al-Asy’ari.

Al-Jubba’i menjawab, “Orang muslim akan masuk surga. Orang kafir akan masuk neraka. Sedang anak kecil tadi akan selamat”.

“Mungkin tidak anak kecil itu meminta derajat yang tinggi kepada Allah?” Imam al-Asy’ari bertanya lagi.

“Tidak mungkin. Sebab Allah akan berkata kepada anak tersebut, ‘Orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. Jadi kamu tidak bisa memperoleh derajat itu'” Tandas al-Jubba’i

“Bagamaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dengan berkata, ‘Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal sbagaimana orang mukmin itu'” Balas al-Asy’ari.

“Tidak bisa. Tuhan akan berkata kepadanya, ‘Tidak begitu. Aku justru telah mengetahui bahwa apabila kamu diberi umur panjang, maka kamu akan durhaka sehingga kamu nanti akan disiksa. Oleh sebab itu, demi menjaga masa depanmu aku matikan kamu selagi masih kecil” Bantah al-Jubba’i

Al-Asy’ari kemudian bertanya, “Bagaimana seandainya orang kafir itu menggugat kepada Allah dengan berkata, ‘Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga masa depanku. Mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku dengan mematikanku sewaktu masih kecil sehingga aku tergolong orang yang selamat seperti anak kecil itu. Kenapa Engkau biarkan aku hidup hingga dewasa sehingga aku menjadi orang kafir yang akhirnya disiksa seperti sekarang ini?”

Menerima pertanyaan dari al-Asy’ari tersebut al-Jubba’i membisu tak mampu memberi jawaban.

Setelah kembali menjadi pengikut Aswaja Imam al-Asy’ari menyebarkan pahamnya dengan berdebat melawan para pengikut aliran menyimpang seperti Muktazilah, Jahmiyyah, Karramiyyah, Syi’ah dan menulis banyak kitab yang membantah kesesatan mereka. Beberapa contoh karya pentingnya di bidang teologi adalah Maqalat al-Islamiyyin, al-Ibanah, al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-Bida’. Beliau juga memiliki banyak murid handal semisal Imam al-Bahili, Abu Sahal al-Sha’luki, Imam al-Qaffal, Ibn Mujahid, Abu Bakr al-Isma’ili yang meneruskan perjuangannya dalam membela akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Dari murid-muridnya itulah paham Asy’ariyyah kian meluas dan terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi madzhab mayoritas ahli Islam selama berabad-abad. Di kalangan ulama dan tokoh Islam tercatat sebagai pengikut madzhab Asy’ariyyah adalah Imam al-Haramain, al-Baihaqi, al-Ghazali, al-Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, al-Qurthubi, Izzuddin bin Abdissalam, Nizham al-Mulk, Shalahuddin al-Ayyubi dan lainnya. Akidah Asy’ariyyah juga menjadi paham yang dianut oleh mayoritas penduduk muslim di Nusantara semenjak lama yang lalu ditetapkan oleh Jamiyyah Nahdhatul Ulama sebagai madzhab di bidang akidah.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh : Muhammad Habib Musthofa

Rujukan:

*Nasy’at al-Madzhab al-Asy’ari wa Thathawwuruhu fi al-Hind, Syeikh Abu Nashir Ahmad al-Malibari
*Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, KH. Hasyim Asyari
*Tabyin Kidzb al-Muftari, Imam Ibn Asakir
*Tarikh Madzahib al-Islamiyyah, Syeikh Abu Zahrah

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About MZEEM

Baca Juga

Pembentukan Gerakan Pemuda Ansor Desa Dukuh Salam Kecamatan Losari

Losari (24/03/2019)“Dalam mengemban amanat, Ansor haruslah selalu mampu menjadi suri tauladan dan bijaksana dalam bertindak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *