Home / ARTIKEL HIKMAH / Rizqi Menurut Syaikh Imam An-Nawawi

Rizqi Menurut Syaikh Imam An-Nawawi

Menurut Syaikh Imam An-Nawawi Al-Bantani dalam kitab “Minhajul Abidin” syarah “Bidayah Al-Hidayah” bahwa rizki seorang hamba itu terbagi dalam empat hal :
1. Rizki Al-Madhmun, yaitu rizki yang sudah di tanggung oleh Allah untuk kebutuhan besok, akan tetapi Allah tidak memberitahukan bagaimana datangnya, kapan waktunya, dimana tempatnya. Sehingga kita di tuntut kreatif dalam menjemput rizki tersebut. (kudu usaha).

Firman Allah

Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [QS. HUD 11:6]

2. Rizqi Al-Maqsum, yaitu rizki yang sudah di bagi / ditentukan di lauh mahfud. Seberapa banyak yang kita makan, yang kita minum, yang kita pakai sudah di tentukan di dunia ini.

3. Rizqi Al-Mamluuk, yaitu rizki dari harta dunia yg bisa kita miliki di mana kemudian harta tadi kita diwajibkan untuk menginfaqkan.

Firman Allah

Artinya : Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? [QS. AL MUNAFIQUN 63:10]

4. Rizki Al-Mau’ud yaitu, rizki yang sudah di janjikan oleh Allah kepada orang – orang yg bertaqwa.

Firman Allah

Artinya : Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dalam salah satu ayat Qur’an ada dua kriteria manusia dalam menerima nikmat (rizki) dari Allah,

Artinya :

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. [QS. HUD 11:9]

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku“; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, [QS. HUD 11:10]

Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. [QS. HUD 11:11]

Dari tiga ayat di atas yang benar adalah kriteria hamba yang nomer tiga, yang selalu bersabar dan senantiasa beramal sholih, Allah akan memberi maghfiroh dan pahala yang besar.

Tulisan : Ust. Abdul Kholiq (PR. Ansor Sigedeg)

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

Upaya Mewujudkan Kemandirian Organisasi

Gerakan Pemuda (GP) Ansor sebagai badan otonom di Jam’iyyah NU yang bergerak di bidang kepemudaan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *