Home / AMALIAH NU / Antara Kelelawar, Halusinasi Iluminati dan Imunisasi Hati

Antara Kelelawar, Halusinasi Iluminati dan Imunisasi Hati

(Oleh : Ammuzay al-Lumbury*)

Ketika aku masih kecil, hampir setiap malam aku melihat beberapa santri menelusuri halaman selatan rumahku. Di sana berdiri beberapa pohon sawo yang konon katanya ditanam oleh almaghfurlah Mbah Idris bin Soleh, besan Mbah Soleh Darat. Mereka mencari sawo matang yang dijatuhkan kelelawar untuk mengisi perut di malam hari. Mereka sehat-sehat saja dan tak satupun yang keracunan ataupun terpapar virus.

Februari 2020, sebuah bencana alam terjadi ketika wabah COVID-19 mendunia. Sebelum go-internasional, wabah tersebut menjangkiti sebuah kota yang disebut Wuhan. Beberapa orang beranggapan, pasar ekstrim di Wuhan adalah pusatnya. Mereka pun mengklaim bahwa penyakit itu ditimbulkan oleh makanan-makanan ekstrim seperti kelelawar, tikus, ular dan lainnya yang dijual bebas di sana. Barat sampai sempat menyebut virus tersebut dengan sebutan ‘Corona-Wuhan’.
Dalam benak, aku bertanya-tanya, bukankah pasar itu sudah dibuka sejak bertahun-tahun lalu? Lantas mengapa baru di tahun ini menyebabkan penyakit yang meluas begitu dahsyatnya?

Di beberapa negara selain China, ada banyak sekali restoran yang menyediakan makanan ekstrim, seperti ulat hidup, ikan hidup, ular dan sebagainya. Tapi tak dituduh sebagai penyebab merebaknya virus.
Bahkan kalau kita bicara soal kelelawar, di Tiongkok sana, konsumsi sup kelelawar ini diyakini memiliki khasiat yang sudah turun temurun, dari generasi ke generasi dikonsumsi. Ini menambah kejanggalanku tentang ‘pengambing-hitaman’ pasar Wuhan.

Awal Maret 2020, aku melihat aplikasi Air Asia dan tak percaya aku melihatnya, tiket untuk penerbangan Alor Setar-KL-Jakarta totalnya hanya 200 ribu rupiah. Padahal biasanya antara 1,5 juta sampai 2 juta. Mungkin itu adalah dampak dari COVID-19. Benar saja, di pertengahan Maret, beberapa negara hampir serentak menginstruksikan lockdown selama 14 hari. Segala aktifitas di luar rumah yang riskan penularan virus dihentikan. Transportasi, perdagangan, tempat peribadatan dan segala aktifitas massal diawasi. Imbasnya aktifitas ekonomi terganggu, inflasi besar-besaran terjadi. Ekonomi beberapa negara terjun bebas.
Di Indonesia, seperti biasanya, terjadi pro-kontra membosankan dan saling serang di medsos, baik dalam ranah politik maupun dakwah agama. Antara panik dengan virus, panik dengan ekonomi atau panik atasnama iman. Toh akhirnya, umat dipaksa untuk menyelamatkan dunia dengan ‘rebahan’ di rumah.

Ketika melihat betapa digdayanya dollar amerika serikat, pikiran jelekku berprasangka, jangan-jangan ini virus buatan orang-orang pemilik dollar yang ingin menguatkan mata uang mereka?
Bisa jadi, stigma negatif “Corona-Wuhan” yang diberikan Barat kepada Wuhan hanyalah lempar tangan sembunyi batu.
Tapi aku tak bisa membuktikan hal itu. Setidaknya, belum melihat buktinya. Baru tanda-tanda.

Kulihat di medsos, banyak tulisan, rekaman, ceramah dan foto-foto meme yang meyakinkan bahwa ini semua adalah ulah Iluminati. Tapi lagi-lagi, sepertinya hanya tuduhan-tuduhan yang masuk akal namun sulit terbukti. Bahkan untuk mengenal anggota Iluminati saja aku tak tahu. Mereka pun sepertinya juga tak tahu.

Tapi kalau itu benar, maka benarlah kata beliau, “Akan ada masa di mana dunia tak percaya lagi pada dollar dan semua negara ‘kembali’ pada dinar dan dirham.”

Menyalahkan konsumsi hewan secara brutal, pikiran ini menolak. Walaupun secara agama haram, tapi menuduh makanan itu sebagai sumber virus, rasanya masih ada yang mengganjal.
Menyalahkan Iluminati pun, ah… Iluminati saja aku tak tau.

Jadi, apa inti dari tulisan ini, nothing!
Lalu untuk apa ditulis? Biar unek-unek ini nggak jadi jerawat, itu saja!

*mantan redaktur Misykat Kediri.

Malaysia, 25 Mac 2020 M.

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

RAJAH MENYAMBUT MASA NEW NORMAL

Oleh: Ahmad Muntaha AM – Founder Aswaja Muda Info yang beredar, New Normal, relaksasi atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *