Home / BERITA UTAMA / Video Siaran Pers PBNU

Video Siaran Pers PBNU


Prof. Dr. KH. Said Aqil Sroj, MA, membacakan siaran pers yang berisi imbauan kepada umat Islam dan warga Indonesia agar mewaspadai dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Video pernyataan ini ramai di media sosial. Sayangnya, video yang beredar tidak utuh, karena sudah melali proses pemotongan, sehingga terkesan pernyataan tersebut adalah pernyataan Kiai Said.

Video yang berisi ikhtiar pencegahan penyebaran Covid-19, berubah menjadi sarana menjelekkan organisasi Nahdlatul Ulama. Padahal, di awal video sudah dijelaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pernyataan bersama Ormas-ormas Islam anggota Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK).

Ada 14 Ormas Islam yang tergabung dalam LPOI, yakni: Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam Indonesia, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), IKADI (Ikatan Dai Indonesia), Az-Zikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Umat Islam (PUI), Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI), dan Nahdlatul Wathan.

Dalam siaran pers yang dibacakan Kiai Said itu, terdapat lima poin, sebagai berikut:

  1. Mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak panik dan bersama-sama menjaga kondisi sosial dengan tetap berada di rumah masing-masing demi keselamatan keluarga yang sekaligus juga membantu upaya pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19;
  2. Mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah Indonesia dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 antara lain:
    a. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (physical, social distancing) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
    b. Memberikan bantuan bagi masyarakat lapisan bawah yang terkena dampak virus corona yang dikenal dengan enam paket bantuan yaitu, baik berupa peningkatan jumlah penerima bantuan besar manfaat Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, Kartu Pra-Kerja, penggratisan tarif listrik kapasitas 450 w. dan diskon 40%bkapasitas 900 w. selama tiga bulan, antisipasi kebutuhan pokok, serta menjadikan keringanan kredit;
  3. Mengimbau kepada umat muslim agar melaksanakan ibadah shalat jumat, shalat tarawih, idul fitri tahun 1441 H. di rumah masing-masing, serta tidak melaksanakan kegiatan takbir keliling, buka bersama, silaturrahim. Demikian pula kepada umat non-muslim untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing agar dapat mengurangi potensi penyebaran virus Covid-19;
  4. Mengimbau kepada masyarakat agar sebisa mungkin tidak melakukan mudik ke daerah masing-masing sesuai dengan imbauan dari pemerintah. Di samping itu LPOI dan LPOK juga sangat mendukung rencana kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif kepada masyarakat yang tidak pulang atau tidak mudik agar dapat merayakan hari raya di keluarganya masing-masing;
  5. Meminta kepada seluruh pihak agar menghilangkan stigma terhadap warga yang terpapar Covid-19, serta tidak ada politisasi dan komodifikasi atas krisis yang melanda bangsa ini. Hendaknya setiap umat beragama tidak mudah menerima, tidak mudah percaya, dan membagika hoax atau berita bohong terkait pandemi Covid-19.

Tetapi, video tersebut dipotong dan disebarkan sebagian, yakni saat Kiai Said membacakan poin ke-3. Sedangkan pembicaraan sebelum dan sesudah poin tersebut dibuang. Ayat dan hadispun banyak bertebaran di media sosial menyikapi potongan video itu. Sebagian warga NU pun ada yang latah turut “angkat suara” mengkritik video tersebut.

Yang perlu diketahui, pada siaran pers tersebut, Kiai Said tidak hanya sebagai Ketua Umum PBNU, tapi juga sebagai Ketua Umum LPOI. Jadi, lumrah jika beliau yang membacakan siaran pers.

Sebagai induk organisasi, posisi PBNU bersifat nasional, bahkan internasional. Beda dengan dengan PWNU yang sekopnya provinsi atau PCNU di kabupaten, MWCNU di kecamatan, PRNU di desa ataupun PARNU di dusun-duaun maupun komunitas tertentu.

PBNU bukan tidak tahu ayat dan hadits yang banyak beredar. Di PBNU itu terdapat kiai-kiai sepuh yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya; banyak juga kiai-kiai yang sudah melahirkan karya-karya sesuai kapasitasnya masing-masing. Akan tetapi, melihat orang-orang yang mengkritik, ternyata rata-rata tidak pernah menelurkan pemikirannya melalui karya. Lebih dari itu, menyikapi situasi nasional ini, dibutuhkan pengetahuan secara lengkap menyikapi situasi sulit seperti ini. Situasi nasional seperti saat ini, tidak bisa disikapi dengan pengamatan lokal saja. Ini kurang bijak.

Kata teman-teman LBMNU, imbauan PBNU itu matannya, maka di bawah harus men-syarahi bahkan meng-hasyiyahi apa yang menjadi kebijakan PBNU. Bukan ditelan mentah-mentah. Ini menjadi bahan renungan bagi kita warga NU.

Oleh karenanya, kemudian ada keputusan PWNU Jatim dan PWNU lainnya dalam rangka men-syarahi keputusan PBNU dalam kondisi yang berbeda dan sesuai kearifan lokal masing-masing. Seperti keputusan LBM PWNU Jatim (sebagaimana gambar) dan keputusan LBM PWNU Jateng ini misalnya:

Insya Allah ini bisa menjadi pedoman agar tidak digeneralisasi (digebyah uyah) :

HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL
LEMBAGA BAHTSUL MASAIL PWNU JAWA TENGAH

Nomor: 08/LBM/PWNUJATENG/III/20

Bismillahirrahmanirrahim
Memepertimbangkan bahwa Provinsi Jawa Tengah yang disinyalir menuju Zona Merah dalam status penyebaran Virus Corona sesungguhnya tidak5 merata di semua kabupaten dan kota, Sementara itu menurut
Pandangan Fiqih, penyelenggaraan Shalat Jumat didasarkan kawasan desa/kelurahan atau lingkungan, maka
Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengadakan Bahtsul Masail pada 30 Rajab 1441 H /25 Maret 2020 M dengan hasil sebagai berikut:

A. Hukum Penyelenggaraan Shalat Jumat (Iqomat al-Jum’ah)

  1. Kabupaten atau kota yang termasuk Zona Hijau wajib menyelenggarakan Shalat Jumat dengan tetap mengupayakan kewaspadaan yang telah ditetapkan Pemerintah.
  2. Kabupaten atau kota yang termasuk Zona Kuning wajib menyelenggarakan Shalat Jumat dengan tetap mengupayakan pencegahan sesuai Ketentuan atau Protokol yang ditetapkan Pemerintah.
  3. Kabupaten atau kota yang dinyatakan sebagai Zona Merah, maka diperinci sesuai desa, kelurahan atau
    lingkungan;
    a. Desa, kelurahan atau lingkungan yang masih aman dari penyebaran Virus Corona maka tetap wajib menyelenggarakan Shalat Jumat disertai upaya-upaya pencegahan sesuai Ketentuan atau Protokol yang ditetapkan Pemerintah.
    b. Desa, kelurahan atau lingkungan yang telah dinyatakan terjadi penyebaran Virus Corona sehingga
    terjadi kekhawatiran masyarakat akan penyebaran Virus tersebut, maka tidak diwajibkan
    menyelenggarakan Shalat Jumat. Ketidakwajiban ini berlaku sampai desa, kelurahan atau
    lingkungan tersebut dinyatakan aman.

B. Kehadiran Pada Shalat Jumat (Hudlur al-Jum’ah)

  1. Orang Sehat atau Orang Tanpa Gejala (OTG) wajib menghadiri Shalat Jumat
  2. Orang Dalam Pemantauan (ODP) tidak wajib dan dianjurkan tidak menghadiri Shalat Jumat
  3. Pasien Dalam Pengawasan (PDP) haram menghadiri Shalat Jumat.
  4. Orang yang positif terpapar Virus Corona haram menghadiri Shalat Jumat.
  5. Orang yang tidak diwajibkan Shalat Jumat tetap wajib melaksanakan Shalat Dhuhur di rumah masing￾masing.

C. Himbauan-himbauan

  1. Takmir Masjid melibatkan ulama, tokoh dan Pemerintah setempat dalam penyelenggaraan Shalat
    Jumat.
  2. Takmir Masjid melakukan usaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti ketentuan atau protokol
    pencegahan Virus Corona yang ditetapkan Pemerintah.

Semarang, 30 Rajab 1441 H/ 25 Maret 2020 M

Wallahu A’lam bi showab…

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

TAFSIR AYAT AQIDAH (96)

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِیعًاۚ إِلَیۡهِ یَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّیِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ یَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِینَ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *