Home / ARTIKEL HIKMAH / Dimanakah Hatim Sekarang?

Dimanakah Hatim Sekarang?


Oleh : A. Nafis Atoillah (Ketua RMI NU Banjarnegara)

Abu Nu’aim Al-Isfahani menulis tentang tokoh-tokoh cemerlang dunia tasawuf, sebuah dunia yang di huni oleh orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Dia mengarang sepuluh jilid buku, yang diberi nama Hilyat Al-Auliya. Dengan cermat ia kumpulkan ucapan para wali. Juga saat-saat penting kehidupan mereka. Dia ingin mengajarkan pokok-pokok tasawuf dengan menampilkan contoh-contoh hidup.

Salah satu tokoh yang diceritakan Abu Nu’aim adalah Abu Abdurrahman Hatim, yang bergelar Al-Asham, Si Tuli. Konon gelar ini diberikan kepadanya, karena pernah pura-pura tuli demi menjaga rasa malu seorang wanita. Wanita itu, maaf, mengeluarkan angin dengan keras di hadapannya.

Hatim berguru kepada Syaqiq Al-balkhi, juga seorang pendekar di dunia tasawuf. Pada suatu hari gurunya bertanya, “Berapa lama engkau telah berguru kepadaku?”
“Tiga puluh tahun” jawab Hatim
“Selama itu apa yang telah kau pelajari dariku.”tanya Syaqiq
“Delapan saja”
‘Sia-sia saja umurku bersamamu.” Selama ini kau belajar hanya delapan hal saja,” ujar Syaqiq dengan gusar.
“Tuan Guru” memang aku tidak mendapatkan sesuatu selain itu. Akupun tidak ingin berdusta.”
“Jelaskan yang delapan itu, aku ingin dengar,”pinta sang guru. Inilah jawaban Hatim.

Aku lihat semua orang mempunyai kekasih. Dia ingin sehidup semati dengan kekasihnya. Padahal ketika sampai ke kubur, berpisahlah dia dengan kekasihnya. Aku pilih amal sholeh sebagai kekasihku, karena ia menyertaiku bila aku masuk kubur, juga menemaniku ketika menghadapi panggilan Ilahi nanti.
“Benar sekali Hatim, lalu apa yang kedua?”

Aku perhatikan firman Allah ”Adapun yang takut di hadapan kebesaran Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, surgalah tempat tinggalnya. Tuhan benar. Aku memilih surga. Aku berjuang mengendalikan hawa nafsuku.”
“Engkau betul, apa yang ketiga?”

Setiap orang memiliki kekayaan. Dia menhargai, menilai, dan memelihara kekayaan itu. Aku perhatikan firman Allah : “Apa yang ada padamu akan hilang, Apa yang ada di sisi Allah akan abadi”. Kapan saja aku memperoleh kekayaan, aku serahkan kekayaanku untuk Allah, supaya terpelihara di sisi-Nya.
“Bagus sekali apa yang keempat?”

“Aku melihat semua orang mempunyai nilai yang dikejarnya. Harta, pangkat, kemuliaan dan keturunan, Semuanya bagiku tidak bernilai. Aku perhatikan firman Allah: “Yang termulia di antara kamu adalah yang paling takwa.”

Aku perhatikan orang saling “menusuk,” mengutuk karena dengki. Padahal Allah berfirman: “Kamilah yang membagi- bagikan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ini.” Aku tinggalkan dengki. Aku jahui pertikaian di antara orang banyak.
“Engkau benar apa yang keenam?”

“Semua orang mempunyai musuh yang mereka perangi. Menurut firman Allah, “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, jadikanlah ia musuh.” Aku jadikan setan musuhku. Aku lepaskan permusuhanku dengan makhluk yang lain.
“Benar pula apa yang ketujuh?”

Aku melihat orang berebutan rezeki. Kadang-kadang ada orang yang menghinakan dirinya, memasuki yang tidak halal. Aku perhatikan firman Allah: “Tidak ada yang merangak di bumi melainkan rezekinya ada pada Allah.” Aku adalah salah satu merangak di bumi. Aku kerjakan kewajibanku kepada Allah. Aku tidak hiraukan apa kewajiban Allah bagiku.

Yang terakhir, erat kaitanya dengan ketujuh. Setiap orang bersandar pada makhluk untuk mencari rezekinya. Allah berfirman: “Siapa yang menyandarkan diri pada Allah, Allah akan mencukupakan rezekinya.” Aku bersandar kepada Allah saja.

“Ya Hatim, “kata Syaqiq, “Semoga Allah senantiasa membimbingmu. Menurutku, seluruh isi Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an dapat disimpulkan dalam kedelapan hal itu.”

Sang guru, Syaqiq Al-Balkhi tentu bangga mempunyai murid secerdas Hatim. Lebih bangga lagi, karena Hatim bukan saja cerdas, tetapi juga berani. Seperti air yang dipakai wudhu, Hatim suci dan mensucikan. Dia menjaga dirinya dari kemaksiatan. Dia juga mengingatkan orang lain untuk memelihara kesucian.

Pada saat yang lain Hatim pernah dimintai datang ke Qozwin oleh Ibnu Muqatil untuk mensehati Al-Thanafisi yang kaya raya.
Hatim datang ke Qazwin, ia meminta diajarkan cara berwudhu yang benar.
“tuan, saya akan berwudhu dihadapan tuan. Tolong betulkan saya, kalau salah,” Hatim bermohon dengan sopan. Lalu ia mengambil air, membasuh muka, dan membasuh tangan empat kali.
“Hai, mengapa engkau berlebih-lebihan. Engkau membasuh tanganmu empat kali,” tegur Al-Thanafisi.

“Subhanallah,” kata Hatim, “setapak air, tuan anggap berlebihan, sekarang bandingkan seluruh kekayaan dan kemewahan yang tuan miliki dengan contoh Rasulullah SAW. Apakah ini tidak berlebihan?”

Al-Thanafisi tidak menjawab. Kabarnya, lantaran malu, dia tidak keluar rumah selama empat puluh hari.

Imam Ahmad mendengar berita ini, Dia mendatangi Hatim dan meminta nasihat. Imam besar pendiri mazhab Hambali ini, tidak segan bertanya kepadanya, Subhanallah, alangkah cerdasnya Hatim,” kata Imam Ahmad dengan penuh kagum.

Hatim sekarang sudah tiada. Dia menuntut ilmu dengan tekun. Dia mensucikan dirinya. Dia tampil membetulkan siapapun yang lupa. Dia tidak suka ustadz yang begitu sensitif membincangkan fikih khilafiyah. Ustadz yang mudah memvonis kafir pada sesama muslim, yang berang bila melihat bid’ah dalam ibadah, namun sangat tenang ketika melihat ketimpangan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya dan tidak mempedulikan jiwa keselamatan umatnya ketika terjadi wabah. “Tuhan dimanakah Hatim sekarang?”

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

Upaya Mewujudkan Kemandirian Organisasi

Gerakan Pemuda (GP) Ansor sebagai badan otonom di Jam’iyyah NU yang bergerak di bidang kepemudaan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *