Home / AMALIAH NU / Ketika Musa Menangis

Ketika Musa Menangis

Oleh : A. Nafis Atoillah (Ketua RMI NU Banjarnegara)

Di dalam hadits tentang Isra Mikraj, di langit kesekian, Nabi Musa AS menangis bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Apa yang membuat Musa menangis? Rupanya beliau merasa kecewa karena tidak berhasil mengajak umatnya masuk surga sebanyak Nabi Muhammad SAW mengajak umatnya.

Untuk beberapa alasan, kisah Nabi Musa AS dalam al-Qur’an memang kisah yang cukup unik.
Pertama, kisah beliau mengambil sepertiga bagian dalam al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW.
“Demi Allah, saudaraku Musa (kisahnya} menghabiskan sepertiga dari al-Qur’an.”

Al-Quran sendiri memang bagian terbesarnya berisi kisah dan sejarah. Diantara kisah-kisah itu yang terbanyak adalah kisah Nabi Musa AS yang mengharu-biru dengan bani Israil, kaumnya yang legendaris itu. Karena paling banyak maka edisinyapun paling lengkap. Sejak kondisi sebelum kelahirannya, lalu kelahirannya yang mengharukan, masa mudanya, bertemu jodoh, menerima wahyu, perjuangan melawan Fir’aun sampai suka duka ngemong bani Israil.

Kedua, dan ini yang menarik, cerita panjang beliau dengan bani Israil rupanya berisi tentang “kegagalan” mendidik kaumnya. Selama orang berupaya maksimal sejatinya tak pernah gagal. Tapi yang dimaksud di sini adalah kuantitas keberhasilannya yang tidak signifikan, tidak sesuai target manusiawinya. Kisah tentang tangisan beliau ketika bertemu Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mikraj membenarkan kesimpulan ini.

Apa yang ingin dipetik dari fakta ini? Banyak! Diantaranya mengurusi orang bandel, ngeyelan itu memang kerja keras yang tak ada akhir. Atau mengajak orang pada kebaikan itu memang bukan kerja yang mudah. Sebagaimana sulitnya memaksa dan mendidik diri pada kebaikan. Maka menularkannya pada orang lain juga pekerjaan yang sulit. Dalam kasus bani Israil bahkan Allah telah menurunkan bermacam-macam bukti kebesaran-Nya secara langsung ataupun melalui Nabi Musa AS.

Semua disaksikan langsung oleh mata mereka: tongkat menjadi ular, tongkat membelah lautan, batu yang memancar air, gunung yang serupa hendak runtuh, bermacam-macam makanan lezat yang diturunkan langsung dari langit, awan yang melindungi dari panas. Oh alangkah banyaknya. Rupanya semua itu tak sanggup menyadarkan mereka dari keangkuhan dan kekufuran.

Belajar dari kisah Nabi Musa AS, pada akhirnya tugas kita adalah menawarkan, mengajak, mengarahkan, syukur-syukur dengan kekuatan yang dimiliki, berani memaksa orang pada kebaikan. Adapun hasilnya apakah orang tersebut menerima hidayah atau tidak, merupakan hak prerogratif Allah SWT.

Tentu ini bukan untuk melemahkan semangat berdakwah, tapi justru sebaliknya, ia menjadi pelipur lara kala seruan kebaikan, air susu berbalas air tuba. Dengan demikian diri akan teringat, tugas kita toh menyampaikan itu sudah cukup. Ini pula yang menjadi penghibur Nabi Muhammad SAW kala menghadapi bebalnya kaum Quraisy. Allah lantas menceritakan bagaimana para Nabi sebelumnya juga mengalami penolakan dan reaksi negatif.

Bahkan sejatinya cerita dakwah Nabi Muhammad SAW sendiri sebelum menemukan jalan kesuksesan, juga sempat mengalami masa-masa teramat sulit. Cobaan demi cobaan, fitnah demi fitnah, caci-maki, intimidasi dan permusuhan dari orang-orang Quraisy beliau terima bersama para sahabat.

Belajar dari kisah Musa AS juga, ia mengajarkan kepada kita sunnatullah. Rumus orang mengajak kebaikan pasti menghadapi tantangan dan cobaan. Jika orang-orang baik dan lurus membawa misi amar makruf nahi munkar, maka pasti ada sekelompok lainnya dengan misi sebaliknya, menyerukan yang mungkar dan mencegah yang makruf.

Menghadapi ini hanya satu pilihan, yaitu sabar, sembari terus menyusun langkah. Sadarilah bahwa jika kita berdakwah, sejatinya untuk mengajak mereka pada kebaikan dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan Allah. Karena itu mari mendasari ajakan tersebut dengan cinta, bukan dengan menghina, caci-maki apalagi membuka aibnya atau dengan istilah amar makruf nyambi mungkar. Ketulusan dan cinta inilah yang membuat Nabi Muhammad tidak pernah membenci kaumnya yang ingkar. Beliau berdakwah dengan amar makruf bil makruf. Sebab beliau ingin mengajak mereka ke surga.
Suhanallah…

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

Upaya Mewujudkan Kemandirian Organisasi

Gerakan Pemuda (GP) Ansor sebagai badan otonom di Jam’iyyah NU yang bergerak di bidang kepemudaan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *