Home / ARTIKEL HIKMAH / Menyingkap Strategi Iblis

Menyingkap Strategi Iblis

Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah adalah Ulama besar, pengikut Madzhab Hambali. Gurunya Ibnu Taymiyah, sering disebut sebagai pembaharu dalam sejarah pemikiran Islam. Dalam “menyerang” bid’ah Ibnu Qoyyim melanjutkan tradisi gurunya. Tetapi dalam hal tasawwuf, Ibnu Qoyyim, mempunyai pendapat yang unik. Dia menulis pengantar kepada tasawuf hanya dengan menafsirkan : Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’iin. Semuanya ada tiga jilid tebal dan diberi judul Madarij Al-Salikin. Salah satu kupasannya yang menarik adalah inventarisasi “trik-trik” Iblis dalam menjebak manusia.

Menurut Ibnu Qoyyim, Setan menjebak manusia secara bertahap. Dari menggunakan strategi yang paling kasar, jelas dan tegas. Cara ini hanya digunakan untuk orang-orang yang sudah menjadi setan, sebelum digoda setan. Sampai strategi pamungkas hanya dijalankan dalam menghadapi orang-orang sholeh, orang yang kadar imannya sudah tinggi.
Mari kupas strategi Iblis itu.

Pertama, Iblis menawarkan kekufuran, mengajak orang menolak agama, eksistensi Tuhan, risalah para Rasul dan kebenaran kitab suci. Agama dianggap sebagai sumber keterbelakangan. Dengan meninggalkan agama manusia bisa melejit dalam sains dan teknologi. Manusia modern adalah manusia yang rasional, sekuler dan individual. Agama menyebabkan manusia irasional, dogmatis dan diperbudak. Ajarannya, “Tuhan telah mati,” atau Agama tak lebih sekedar candu untuk meninabobokan masyarakat yang sedang galau dengan janji-janji surgawi belaka.

Bila jebakan pertama gagal, Iblis merancang jebakan kedua, tetap beragama dan meyakini kerasulan, tapi ditawari bid’ah. Nabi mengajarkan sikap saling menghormati ketika terjadi silang pendapat, maka tidak boleh memutlakkan pendapat sendiri dan mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan cap ahli bid’ah dan neraka.

Bila berhasil menolak semua bid’ah itu, Iblis menjebak dengan jebakan ketiga, yaitu lewat dosa-dosa besar, al-kabair seperti pergaulan bebas, durhaka kepada kedua orang tua, memanipuasi data dan angka, dan banyak lagi.

Katakanlah, tidak mau melakukan dosa besar. Iblis datang dengan jebakan keempat, menawarkan dos-dosa kecil. Ia dengan halus berkata, berbuat dosa itu manusiawi, hanya malaikat saja yang tidak pernah salah. Lagi pula bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang?

Kata Nabi : “Janganlah meremehkan dosa kecil, karena dosa kecil akan menjadi besar bila menghimpunnya”.
Ali bin Abi Thalib berkata “Dosa besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Jebakan kelima didesain Iblis jika berhasil menghindarkan dosa-dosa kecil. Iblis menyibukkan untuk melakukan hal-hal yang mubah sehingga melalaikan berbagai kewajiban. Menonton bola, mendengarkan musik dan main catur itu boleh, namun bila sampai melupakan sholat berarati telah melalaikan kewajiban.

Jebakan keenam, lebih canggih lagi, Iblis menawarkan ibadah-ibadah yang utama, tetapi melalaikan hal-hal yang lebih utama. Berzikir itu ibadah utama, namun bila dengan sibuk berdzikir melalaikan masyarakat dan masalah sosial perlu ditolong, maka itu berarti melupakan hal yang lebih utama.

Jebakan terakhir, yang paling canggih, khusus orang-orang bertaqwa, Iblis akan mengerahkan bala tentaranya, jin dan manusia untuk mengikutinya. Orang shaleh difitnah dicaci-maki, diganggu dengan lisan dan tindakan, kebenaran ajarannya disebut dusta belaka.

Ibnu Qoyyim, mengingatkan dengan firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Annur 21)

Oleh : A. Nafis Atoillah (Ketua RMI NU Banjarnegara)

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

TAFSIR AYAT AQIDAH (96)

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِیعًاۚ إِلَیۡهِ یَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّیِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ یَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِینَ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *