Home / ARTIKEL HIKMAH / Mulahazhah Qashirah Fi Khasha’ishi Lailah al-Qadr

Mulahazhah Qashirah Fi Khasha’ishi Lailah al-Qadr

(Ulasan Ringkas Tentang Keistimewaan Lailatul-Qadar)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)

Lailatul-qadar berarti malam kemuliaan dan keagungan (lailatus-syaraf wal-‘izham) atau malam putusan (lailatul-hukm). Disebut malam putusan sebab pada malam itulah Allah memutuskan (menakdirkan) nasib manusia sesuai kehendak-Nya sampai malam lailatul-qadar tahun berikutnya berupa kematiannya, ajalnya, rezekinya dan lain sebagiannya lalu menyerahkan putusan itu kepada para pelaksananya yang terdiri dari empat malaikat, yakni Malaikat Mikail, Israfil, Izrail dan Jibril ‘alaihim al-salam.

Maksud Allah menakdirkan nasib manusia pada malam lailatul-qadar adalah Allah memperlihatkan takdir itu kepada para malaikat lalu menyerahkannya pada mereka, bukan Allah memulai menakdirkan nasib manusia sebab nasib telah ditakdirkan oleh Allah sejak zaman azali sebelum terciptanya alam semesta.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa lailatul-qadar adalah malam saat diturunkannya al-Quran dari Lauhil-Mahfudz ke langit bumi (Baitul-‘izzah), atau dari langit kepada Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam -menurut satu penafsiran lain-.

Malam qadar memiliki keistimewaan yang luar biasa besar sebagaimana yang diindikasikan oleh firman-Nya “wa mâ adrâka mâ lailatul-qadar”. Secara global keistimewaan itu terangkum pada tiga hal:

1) Khairun min alfi syahr (lebih baik dari seribu bulan)

2) Tanazzalul malâikatu war rûh (turunnya para malaikat dan al-Ruh)

3) Salâmun hiya hattâ mathla’il fajr (keselamatan hingga menyingsingnya fajar)

Keistimewaan-keistimewaan tersebut merupakan bonus khusus dari Allah untuk umat Nabi Muhammad Saw. (min khashaishi hadzihil ummah). Bermula dari rasa cinta Nabi Muhammad Saw. pada umatnya yang menghendaki mereka mendapat pahala besar setelah mendengar kisah Syam’un al-Ghazi (Samson), Ksatria Bani Israil yang berjuang memanggul senjata di jalan Allah selama seribu bulan. Kala itu Nabi mengadu,

يا رب جعلت أمتي أقصر الأمم أعمارا وأقلها أعمالا

“Tuhan, Engkau menjadikan umatku umat yang paling pendek umurnya dan paling sedikit amalnya”

Allah kemudian memberikan bisyarah pada beliau berupa satu malam yang nilai ketaatan di dalamnya melebihi ketaatan seribu bulan yang berarti setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan.

Diriwayatkan, pada malam lailatul-qadar serombongan malaikat penghuni Sidratul-Muntaha bersama Malaikat Jibril turun ke bumi. Jibril membawa empat liwa (panji) yang akan ia tancapkan di empat tempat paling mulia di muka bumi.

Empat tempat itu ialah makam Baginda Nabi -shallallah ‘alaihi wa sallam- di Madinah, Baitul-Maqdis di Palestina, Masjidil-Haram di Mekah dan Bukit Thur Sina di Semenanjung Sinai Mesir.

Malam itu bumi akan dipenuhi malaikat. Jumlah mereka melebihi hitungan kerikil yang ada di bumi. Mereka datang bergantian serombongan-serombongan seperti jemaah haji. Para malaikat tidak melewati seorang hamba pun, baik yang sedang berdiri atau duduk, sementara ia berdzikir kepada Allah kecuali mereka akan mendoakan rahmat dan keselamatan baginya.

Malaikat akan memasuki setiap rumah yang di huni orang mukmin, laki-laki dan perempuannya, kemudian menyampaikan salam dari Allah padanya. Kecuali pada pecandu khamr, pemutus tali silaturrahim, dan pemakan daging babi.

Malaikat berkata,

يا مؤمن -او يا مؤمنة- السلام يقرئكم السلام

“Wahai lelaki yang beriman -atau perempuan yang beriman-, Allah Yang Maha memberi keselamatan mengucapkan salam untukmu”

Sepanjang malam itu hanya ada keselamatan dan kebaikan. Imam Al-Dhahhak menyebutkan, “Pada malam itu Allah tidak menakdirkan kecuali keselamatan, berbeda dengan malam-malam lainnya yang Allah takdirkan di dalamnya bala dan keselamatan.”

Lailatul-qadar ada pada salah satu malam di sepanjang Ramadhan. Tidak ada kepastian kapan waktu tibanya. Perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu tibanya amat banyak. Perbedaan itu tidak terbatas pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, atau di tanggal ganjil saja. Sebagian ada yang menggantungkan waktu tibanya dengan jatuhnya hari awal Ramadhan seperti yang dikemukakan oleh Hujjah Islam al-Ghazali.
Al-Ghazali rahimahullah menyebutkan, “Lailatul-qadar bisa diketahui dengan patokan jatuhnya hari pertama bulan puasa. Jika hari pertama jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka lailatul-qadar jatuh malam tanggal 29. Jika awal puasa hari Senin, maka lailatul-qadarnya malam 21. Jika awal puasa hari Selasa atau Jumat (seperti puasa tahun ini, 1441 H), maka lailatul-qadar jatuh malam tanggal 27. Jika awal puasa hari Kamis, maka lailatul-qadar jatuh pada malam 25. Jika awal puasa hari Sabtu, maka lailatul-qadar jatuh di malam ke 23”. Adapun Imam Ibn Hazm menentukan tibanya lailatul-qadar dengan menghitung jumlah hari dalam satu bulan, apakah 29 atau 30. Jika jumlahnya 29 maka kemungkinan lailatul-qadar adalah pada malam 20, 22, 24, 26 dan 28. Tapi jika jumlahnya 30, maka kemungkinan jatuhnya adalah pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29.

Barangkali hikmah dirahasiakannya malam lailatul-qadar adalah supaya kaum mukmin tidak melewatkan satu malam pun di malam-malam Ramadhan, terutama di sepuluh malam-malam terakhir, kecuali dengan bersungguh-sungguh melaksanakan ketaatan. Dengan begitu keutamaan seluruh malam Ramadhan bisa ia raih di samping keutamaan malam lailatul-qadar, baik ia diperlihatkan oleh Allah tanda-tanda keagungannya, ataupun tidak.

Bagi yang mendapat anugerah dibukanya hijab saat lailatul-qadar, ia akan melihat para malaikat dalam bentuk dan keadaannya masing-masing; ada yang sedang duduk, berdiri, rukuk, sujud, berdzikir, bersyukur, bertasbih, membaca kalimat tahlil. Sebagian ada yang diperlihatkan surga dengan aneka keindahannya yang menakjubkan. Ada yang menyaksikan Arsy-Nya, menyaksikan tempat para nabi, aulia, syuhada dan shiddiqien serta fenomena ajaib lainnya.

Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapati lailatul-qadar dengan ketaatan. Dan semoga berkah lailatul-qadar yang merupakan malam keselamatan Allah ta’ala menyelamatkan kita dari pandemi Corona, sempitnya rezeki, sulitnya mendapat jodoh, dan berbagai kesusahan dunia lainnya serta dari kesusahan di akhirat kelak. Amin. Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Futuhat al-Ilahiyyah Syarh Tafsir al-Jalalain, Jilid 8.
Ianatut-Thalibin, Juz 2
Mukasyafatul-Qulub

*Muhammad Habib Mustofa

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

TAFSIR AYAT AQIDAH (96)

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِیعًاۚ إِلَیۡهِ یَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّیِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ یَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِینَ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *