Home / ARTIKEL HIKMAH / KONSEP SUNNAH DAN AHLUSUNNAH

KONSEP SUNNAH DAN AHLUSUNNAH

Sunah secara etimologis berarti jalan atau perilaku, baik ataupun buruk. Sedangkan secara terminologis, ia memiliki bermacam pengertian sesuai dengan tujuan dan obyek pengetahuan yang dibahas. Ulama hadis mendefinisikannya sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallâh ‘alaihi wa sallam –menurut satu pendapat; atau kepada sahabat atau kepada orang yang setelahnya- baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, atau sifat. Ulama ushul fiqh mengartikan, setiap sesuatu yang muncul dari Nabi Muhammad berupa ucapan, perbuatan, atau penetapan yang layak untuk dijadikan dalil hukum syariat. Ulama fiqih mengungkapkan, sunah adalah apa yang telah tetap dari Nabi Muhammad yang bukan kategori fardhu dan wajib. Sementara ulama al-wa’zhu wal Irsyâd mengartikan sunah sebagai kebalikan dari bid’ah. Pengertian terakhir inilah yang dimaksud dalam konteks ketaatan kepada Nabi Muhammad Shallallâh ‘alaihi wa sallam.

Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risâlah Ahlussunnah wal Jamâ’ah mendefinisikan, “Sunah adalah nama bagi metode beragama yang diridhai dan ditempuh oleh Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam atau selain beliau dari orang-orang yang memiliki pengetahuan agama seperti para sahabat. Orang-orang yang mengikuti sunah nabi disebut dengan “Ahlussunnah” yang kemudian dipadukan dengan “al-Jamâ‘ah” menjadi “Ahlussunnah wal Jamâ‘ah”. Maksud al-Jamâ‘ah di sini ialah al-Sawâd al-a‘zham (mayoritas). Jadi Ahlusunnah wal jamaah adalah mayoritas umat Muhammad yang mereka tidak mungkin akan bersepakat kepada kesesatan.

Ahlussunnah merupakan satu-satunya golongan yang akan selamat (al-firqah al-nâjiyah) seperti yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam, “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka Duhai Rasul?” Rasul menjawab “al-Jamâ‘ah’’, dalam riwayat lain, “Mâ ana ‘alihi wa ashhâbî (Apa yang aku dan para sahabatku menetapinya).

Dari itulah, masing-masing golongan kemudian mengklaim diri mereka sebagai kelompok Ahlussunnah. Tentu saja itu adalah hak masing-masing. Namun begitu, Ahlussunnah tidaklah ditentukan oleh klaim sepihak, tetapi kesesuaian ideologi dan amaliyahnya dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam serta para sahabatnya. Seorang penyair bersenandung “Wa kullun yadda‘î washlan bi Lailâ, wa Lailâ lâ tuqirru lahum bi dzâkâ” (Semua orang mengklaim punya hubungan asmara dengan Laila, nyatanya, Laila menampik klaim mereka).

Ahlussunnah wal Jamaah sendiri bukanlah istilah baru yang lahir setelah zaman kenabian. Term ini sudah dikenal sejak masa sahabat. Al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsiri ayat, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”(QS Ali Imran: [3]: 106), ia menuliskan, “Yakni pada hari kiamat, ketika wajah Ahlussunnah wal Jamaah putih berseri, dan wajah ahli bid’ah dan perpecahan hitam muram, demikian yang dikatakan oleh Imam Ibnu Abbas.”. Imam Sa’d al-Taftazani mengatakan, “Anas bin Malik ditanya tentang Ahlussunnah wal Jamaah, beliau menjawab, ‘(Ahlussunnah) bilamana ia mencintai al-Syaikhain (Sahabat Abu Bakar bin al-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab), tidak mencela al-Khatanain (Sahabat Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), dan mengusap muzah”. Sementara itu Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan kitab shahihnya dari Ibnu Sirin, ia berkata, “Dahulu ulama hadis tidak menanyakan penyandaran hadis (isnâd), baru ketika terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami para perawinya, maka dilihat siapa yang Ahlussunnah akan diambil hadisnya, dan siapa yang ahli bid’ah akan ditinggalkan hadisnya.”

Para ulama terdahulu telah mengidentifikasi tentang sesiapa yang Ahlussunnah wal Jamaah dan siapa yang ahli bid’ah. Imam Abu Manshur Abdul Qahir al-Baghdadi (w 429 H) salah satu ulama yang mengulas firqah-firqah (sekte) dalam Islam mencirikan Ahlussunnah, “Dan sesuatu yang telah Allah Subhânahu wa ta‘âlâ khususkan kepada Ahlussunnah adalah bahwa Allah menjaga mereka dari mengkafirkan satu sama lain atas perbedaan yang terjadi di antara mereka. Oleh karena, mereka tidak berbeda pendapat dalam soal dasar-dasar tauhid dan tidak juga pada soal janji dan ancaman (al-wa‘d wa al-wa‘îd), namun mereka berbeda sebatas pada persoalan hukum halal dan haram. Dan perbedaan tentang hal itu tidak berakibat pada vonis kafir dan sesat. Orang yang mempelajari sisi-sisi perbedaan yang terjadi di antara para teolog Ahlussunnah seperti Imam al-Harits al-Muhasibi, Abdullah bin Sa’d, Husein bin al-Fadhl, Abdul Aziz al-Makki, al-Qallati, al-Asyari, dan kelompoknya, kita akan menemukan perbedaan di antara mereka tidak berakibat pada pengkafiran. Demikian pula para ahli fiqihnya seperti Imam Malik, al-Syafi’i, Abu Hanifah dan para pengikutnya, mereka berbeda pada soal cabang agama yang tidak berakibat pada vonis kafir dan sesat.”

Sayyid Murtadha al-Zabidi, komentator Ihya Ulumiddin, mengatakan, “Jika diucapkan “Ahlussunnah wal Jamaah”, maka yang dimaksud mereka adalah Asya’irah dan Maturidiyyah”. Imam Ibnu Taimiyah berkata menyanjung Asya’irah, “Ulama adalah para penolong ilmu agama, sementara Asya’irah adalah para penolong dasar-dasar agama (ushûluddîn).” Imam al-Maula al-Khayali berkata tentang Ahlussunnah, “Mereka adalah Asya’irah, yang masyhur di wilayah Khurasan, Iraq, Syam dan sebagian besar wilayah lainnya. Sedangkan di wilayah Ma Wara’ al-Nahr (Transoxiana) Ahlussunnah wal Jamaah adalah Maturidiyyah.” Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan, “Mereka dari generasi Khalaf adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi beserta para pengikutnya.”

Asya’irah merupakan akidah mayoritas ulama dari berbagai disiplin pengetahuan dan madzhab. Imam Izzuddin bin Abdissalam menyatakan akidah Imam Abul Hasan Al-Asyari sebagai akidah ulama madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan tokoh-tokoh utama madzhab Hanbali. Ungkapan Imam Izzuddin tersebut juga diamini oleh Imam Abu Amr bin al-Hajib dari madzhab Maliki dan Imam Jamaluddin al-Hudhairi dari madzhab Hanafi. Asya’riyyah adalah aliran teologi yang dianut oleh Imam al-Baqilani, al-Haramain, al-Ghazali, al-Syasyi, Abu al-Muzhzhaffar al-Isfiraini, Ahmad Ibn Hajar al-Asqalani, al-Nawawi, al-Qurthubi, Izzuddin bin Abdissalam, al-Razi, al-Amidi, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu Hajar al-Haitami, Zakariya al-Anshari, al-Qathallani, Ibnu Daqiq al-Id, al-Nasafi, al-Syirbini, Abu Hayyan al-Nahwi, Ibnu Juza dan banyak ulama lainnya.

Asy’ariyyah juga merupakan madzhab teologi keluarga Abi Alawi, para sayyid atau habib keturunan Imam Hasan dan Husein Radhiyallâhu ‘anhum.

Demikian halnya dengan masyarakat di Jawa, sejak dahulu di bidang fiqih mereka menganut madzhab Syafi’i, di bidang akidah mengikuti madzhab Asy’ari, di bidang tasawwuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Abul Hasan al-Syadzili.

Referensi:

• Al-Manhal al-Lathif, Sayyid Muhammad al-Maliki
• Al-Milal wa al-Nihal, Abu Manshur al-Baghdadi
• Ithaf Sadat al-Muttaqin, Sayyid Murtadha al-Zabidi
• Nasy’atu al-Madzhab al-Asy’ari wa Tathawwuruhu fi al-Hindi, Abdul Nashir al-Malibari
• Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, KH. Hasyim Asy’ari
• Risalah al-Mu’awanah, Imam Abdullah al-Haddad
• Thabaqat al-Syafiiyyah al-Kubra, Al-Subuki

Al-Faqier Muhammad Habib Mushtofa

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

Upaya Mewujudkan Kemandirian Organisasi

Gerakan Pemuda (GP) Ansor sebagai badan otonom di Jam’iyyah NU yang bergerak di bidang kepemudaan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *