Home / ARTIKEL HIKMAH / Konsep Bid’ah

Konsep Bid’ah

Kebalikan dari sunah ialah bid’ah. Bid’ah secara lughawi (bahasa) berarti sesuatu yang baru yang belum pernah ada perumpamaannya sebelumnya; baik berkaitan dengan urusan agama ataupun keduniaan, terpuji ataupun tercela. Adapun bid’ah secara syar’i berarti sesuatu yang baru yang bertentangan dengan dasar-dasar syariat, kaedah-kaedahnya dan teks-teks yang menunjukannya.

Bid’ah dalam pengertian lughawi mencakup bid’ah terpuji (hasanah/ mamduhah) dan bid’ah tercela (sayyi’ah/ madzmumah), dan kesimpulan hukumnya mengikuti hukum syariat yang ada lima: wajib, haram, sunah, makruh dan mubah -sebagian menambahkan khilaful aula-. Sedangkan cara untuk mengenali hukumnya adalah dengan ijtihad dan mengkaji petunjuk-petunjuk yang tertuang dalam teks-teks syariat (nushush al-syari’ah) serta petunjuk-petunjuk yang melingkupi hal baru tersebut, atau dengan menganalogikanya dengan hal-hal serupa yang termuat di dalam al-Quran dan Hadis. Sementara bid’ah dalam arti syariat adalah tercela (baca: haram), sebab ia bertentangan dengan dasar-dasar syariat, kaedah-kaedahnya, dan teks-teks yang menunjukannya. Dengan demikian, apabila ada hal baru –yang tidak ditemukan di zaman Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam – yang ternyata tidak bertentangan dengan dasar-dasar syari’at malah ia memiliki dalil-dalil yang mendasari kebaikannya, maka hal baru tersebut dinamai “bid’ah hasanah” secara bahasa, dan dinamai “sunah” secara syari’at.

Pembagian bid’ah menjadi tercela dan terpuji adalah sebagaimana yang dipahami dari Hadis Jabir bin Abdullah al-Bajali Ra. bahwasanya Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Man sanna fil islâmi sunnatan hasanatan falahu ajruhâ wa ajru man ‘amila bihâ ba‘dahu min ghairi an yanqusha min ujûrihim syai’. Wa man sanna fil islâmi sunnatan sayyi’atan, kâna ‘alaihi wizruhâ wa wizru man ‘amila bihâ min ba‘dihi min ghairi an yanqusha min awzârihim syai’” (HR Imam Muslim, Ahmad, al-Nasa’i, al-Tirmidzi, Ibnu Majah).

“Barang siapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukan sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

Maksud “sanna/ sunnah” pada teks hadis tersebut adalah sunah secara bahasa, yakni perilaku baik maupun buruk. Dan dengan adanya penambahan sifat “hasanah” berarti tertentu pada perilaku yang baik, sementara penambahan sifat “sayyi’ah” menjadikan tertentu pada makna perilaku yang buruk.

Cakupan makna perilaku yang baik tadi juga luas, meliputi kebaikan yang pernah ada dan dicontohkan pada masa Nabi dan juga kebaikan yang belum pernah ada dan dicontohkan oleh beliau. Imam al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim berkata, “Hadis ini mentakhshish (membatasi cakupan makna) sabda Nabi Shallallâh ‘alaihi wa sallam “Setiap sesuatu yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Melarikan makna “sunnah” terbatas pada kebaikan yang pernah dicontohkan dan ada di masa Nabi saja (al-sunnah al-tsabitah bi al-syar‘iyy) adalah tidak tepat dan akan menimbulkan kerancuan makna disebabkan tiga alasan.

Pertama, kata “sanna” dalam teks-teks syariat banyak diberlakukan untuk makna memulai sesuatu urusan. Di antara buktinya adalah hadis riwayat Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad, al-Nasa’i, al-Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah satu jiwa dibunuh secara zalim kecuali bagi anak Nabi Adam yang pertama (Qabil) ikut menanggung darahnya (dosanya), oleh karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan (awwalu man sanna al-qatl).” Imam al-Nawawi mengomentari, “Hadis ini merupakan bagian dari kaedah-kaedah Islam, yakni barang siapa yang berkreasi (ibtada‘a) melakukan sesuatu keburukan, maka baginya dosa keburukan itu dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya setelahnya sampai hari kiamat. Serupa dengan itu, barang siapa yang berkreasi melakukan kebaikan baginya pahala seperti pahalanya orang yang melakukan perbuatan tersebut sampai hari kiamat. Kemudian hadis Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam, “Inna Mu‘âdz qad sanna lakum sunnatan, kadzâlika faf‘alû” (Muadz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian, lakukanlah seperti yang dilakukan olehnya), sebagai komentar atas tindakan Muadz bin Jabal yang telah memulai cara baru bagi ma’mum masbuq mengikuti shalat berjamaah. Dikatakan juga tentang Sahabat Khubaib bin Adiy yang melakukan shalat sebelum dieksekusi, “Wa kâna Khubaib huwa sanna li kulli muslim qutila shabran al-shalâh” (Dan Khubaib telah memprakarsai shalat bagi setiap muslim yang dibunuh dengan disiksa).

Kedua, jika yang dimaksud “sunnah hasanah” adalah menghidupkan kembali perilaku yang baik yang telah tetap dari syariat (ihyâ al-sunnah al-hasanah al-tsabitah bi al-syar‘iyy), maka makasud “sunnah sayyi’ah” pada bagian setelahnya adalah menghidupkan kembali perilaku yang buruk yang telah tetap dari syariat (ihyâ al-sunnah al-sayyi’ah al-tsabitah bi al-syar‘iyy). Dengan pengertian lain, ajaran Islam (perilaku Nabi) itu mencakup perilaku yang baik (sunnah hasanah) dan perilaku yang buruk (sunnah sayyi’ah).

Ketiga, meskipun hadis tersebut konteksnya adalah mendorong bersedekah, yang berarti telah ada ketetapannya dari syariat, tetapi petunjuknya (dilalahnya) tidak terbatas pada persoalan sedekah. Petunjuknya luas meliputi setiap kebaikan apa saja yang dilakukan kaum muslimin. Hal ini sebagaimana kaedah yang sudah ditetapkan oleh para pakar ushul fiqih, bahwa yang menjadi perhatian (‘ibrah) adalah keumuman lafaz, dan bukan kekhususan sebab.

Kemudian dari apa yang pernah diucapkan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab sewaktu beliau mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah dengan satu imam, kata beliau mengomentari, “Ni‘mat al-bid‘atu hadzihi” (Sebaik-baik bid’ah adalah ini). Juga dari pernyataan para ulama dari kalangan salaf maupun khalaf. Imam al-Syafi’i berkata, “Al-bid‘atu bid‘atâni; bid‘ah mahmûdah wa bid‘ah madzmûmah. Famâ wâfaqa al-sunah fahuwa mahmûd, wa mâ khâlafa al-sunah fahuwa madzmûm” (Bid’ah ada dua macam; bid’ah yang terpuji, dan bid’ah yang tercela. Apa-apa yang sesuai sunah Nabi adalah bid’ah terpuji, sedangkan apa-apa yang bertentangan dengan sunah Nabi adalah bid’ah tercela).

Pembagian demikian ini sebagaimana yang dipegang oleh mayoritas ulama seperti Imam al-Syafi’i, Izzuddin bin Abdissalam, al-Qarafi, Abu Syamah (guru Imam al-Nawawi), al-Nawawi, Ibnul Atsir, Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Rajab al-Hanbali, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, al-Munawi, Abul Abbas al-Nafrawi al-Maliki, Ibnu Abidin al-Hanafi dan lainnya –rahimahumullâh ajma‘în-.

Pada kesimpulannya, setiap hal baru yang tidak dikenal dan tidak dicontohkan Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam hukumnya ditangguhkan untuk dikaji apakah ada ketetapannya dari dasar-dasar syariat atau tidak. Jika sesuai dengan dasar-dasar syariat, maka hal baru tersebut dianggap terpuji (bid’ah hasanah/ sunah), dan jika berseberangan dengan dasar-dasar syariat, maka hal baru tersebut adalah tercela (bid’ah sayyi’ah/ bid’ah).

Beberapa sahabat juga melakukan sejumlah kreasi baik saat Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam masih hidup maupun sepeninggal beliau. Misalnya, Bilal bin Rabah. Ia mewajibkan dirinya untuk selalu dalam keadaan suci dari hadas dan mewajibkan dirinya untuk shalat dua rakaat seusai bersuci dan azan. Apa yang dilakukan Bilal tidaklah ada petunjuk khususnya dari Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam, tetapi mengetahui hal tersebut beliau tidak mengingkarinya.
Kemudian ada Khubaib bin Adiy di mana ia melakukan shalat dua rakaat sebelum dieksekusi, padahal, tidak ada nash khusus dari Rasulullah Shallallâh ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan yang demikian. Tetapi oleh sebab shalat adalah utama-utamanya amal ibadah, maka Khubaib menginginkan shalat sebagai penghujung hidupnya. Lalu dikatakan tentang Khubabib, “Wa kâna Khubaib huwa sanna li kulli muslim qutila shabran al-shalâh” (Khubaib telah memprakarsai shalat bagi setiap muslim yang dibunuh dengan disiksa). Adapun contoh kreasi setelah beliau Saw. wafat adalah seperti pengumpulan mushhaf di masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, pelaksaan shalat tarawih secara berjamaah di belakang satu imam atas instruksi Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab, ungkapan Utsman bin Affan ketika iqamat dikumandangkan setelah ungkapan “Qad qâmat al-shalâh” ia menjawab, “Marhaban bil qâ’ilîn ‘adlan, wa bis-shalâh marhaban wa ahlan” dan lain sebagainya. Wallahu a’lam.

Sumber utama: Mafhum al-Bid’ah Wa Atsaruhu Fi Idhthirab al-Fatawa al-Mu’ashirah, Dr. Abdul Ilah al-Arfaj.

Al-Faqier Muhammad Habib Mustofa

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
NU Muda merupakan jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Yoyakarta juga dikenal NU muda yang fokus berdakwah di Web bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar NU.

Baca Juga

TAFSIR AYAT AQIDAH (96)

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِیعًاۚ إِلَیۡهِ یَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّیِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ یَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِینَ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *