Home / ARTIKEL HIKMAH / Kisah Awal Wali Paidi

Kisah Awal Wali Paidi

(Bagian 19)
Siapa Wali Paidi?

Wali Paidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, dia anak
terakhir, kakaknya yg pertama namanya sholeh, dan sekarang dia jadi Kyai di daerah Kediri, punya pondok salaf kecil, yg hanya ramai ketika bulan ramadlan, sudah menjadi budaya kalau bulan ramadlan banyak santri dari pondok lain yg ngaji posoan hanya untuk menghatamkan beberapa kitab, karena kalau ngaji pas bulan ramadlan ngaji kitabnya super cepat yg bertujuan memang untuk menghatamkan bukan untuk kepahaman
Sholeh kakaknya Wali Paidi ini memang sangat cerdas dan pintar, sejak
lulus madrasah ibtidaiyyah ( setingkat SD ) dia sudah mondok, dia selalu dapat rangking dikelasnya , sehingga tidak heran ketika dia lulus dia diambil menantu seorang Kyai di daerah Kediri, dan setelah ayah mertuanya wafat, dialah yg meneruskan menjadi pengasuh pondok pesantren peninggalan mertuanya.
Sedang kakak perempuanya menjadi istri seorang Kyai besar didaerah
jawa tengah, kakaknya ini memang cantik, kulitnya putih seperti ibunya dan wajahnya elok ke arab-araban seperti bapaknya, kakak perempuannya ini sering dan berkali – kali ketika pulang meminta orang tuanya untuk tinggal dengannya, pindah ke jawa tengah, dan kemauan kakaknya ini sangat didukung keluarga suaminya, kebetulan keluarga suami kakaknya ini kaya raya, bukan karena pondoknya yg besar tapi keluarga suami kakakku ini mempunKyai kebun teh yg ber hektare-hektare luasnya. Tapi orang tuanya tidak mau menerima tawaran kakak perempuannya ini, mereka sudah bahagia melihat anak mereka bahagia
itu alasan mereka.


Kakak perempuan Wali Paidi ini juga sejak kecil sudah berangkat mondok
di pesantren di daerah jawa tengah, dan ketika lulus kakaknya ini di ambil
menantu oleh pengasuh pondoknya. Sedangkan sejak kecil Wali Paidi selalu
dirumah, ketika ditawari untuk mondok dia tidak mau, Wali Paidi Masih ingin berbakti kepada orang tuanya, karena orang tuanya sudah tua, Wali Paidi tidak tega kalau meninggalkan orang tuanya sendirian tanpa siapa – siapa yg selalu siap membantunya, Wali Paidi sudah sangat senang melihat kakaknya telah menjadi orang semua.


Tapi ketika Wali Paidi sudah lulus Aliyah, dia disuruh Abahnya untuk
mondok, Abahnya bermimpi bertemu dengan sunan gunung jati yg menyuruhnya untuk memondokkan anaknya, ibunya sebenarnya menentang keras ke inginan Abahnya, ibunya ini tidak tega melihat Wali Paidi pergi sendirian di tempat yg jauh, ibunya ini sangat sayang dan memanjakan Wali Paidi, tapi Abahnya tetap
bersikukuh untuk tetap memondokkan Wali Paidi, keputusan Abahnya tidak bisa diganggu gugat, Abahnya ini memang keras dan tidak mau mengalah kalau mengenai hal2 yg bersifat aqidah, walaupun dihal lain yg tidak bersifat aqidah Abahnya ini sering mengalah terhadap ibunya.
Berangkatlah Wali Paidi mondok ke Jombang sesuai petunjuk sunan
gunungjati yg disampaikan melalui Abahnya, pondok Wali Paidi ini pondok yg sangat istimewa, santrinya sedikit tapi rata2 pintar dan Alim semua, anak2 yg mondok disini rata2 sejak syanawiyah sudah disuruh menghapalkan Al Qur-an dan kebanyakan mereka ketika lulus sudah bisa hapal alAl Qur-an dan ketika meMasuki Aliyah baru diajarkan ilmu nahwu shorof, pengasuh pondok Wali Paidi ini orangnya terlihat biasa, perawakannya kecil dan kulitnya agak hitam karena
seringnya beliau pergi kesawah, tapi menurut khabar dari santri2 yg didengar oleh Wali Paidi bahwa Kyai pengasuh ini sebenarnya adalah seorang Wali yg Mastur ( tersembunyi ) Ketika Wali Paidi sowan dengan Abahnya ke pengasuh pondoknya, Abahnya bilang kepada mbah Kyai
“ Mbah Kyai, saya titipkan anak saya kepada sampeyan, saya pasrah dan
ridlo dengan apapun yg akan mbah Kyai lakukan terhadap anak saya, andai mbah Kyai menyembelihnyapun, saya ikhlas…” “ ingih…inggih…insya Allah anak sampeyan ini jadi orang yg bermanfaat…” ujar mbah Kyai Lalu Wali Paidi diantar Abahnya ke kamar pondoknya, Abahnya berkata kepada Wali Paidi :“ nak…aku memondokkan kamu ini bukan bertujuan membuatmu supaya pinter, tapi aku pingin kamu mondok ini belajar akhlaq yg baik kepada Kyaimu, apapun yg diperintah Kyaimu laksanakan dengan ikhlas, andai Kyai menyuruhmu
memotong tanganmupun kamu harus melakukannya, tanpa harus bertanya apa alasannya…”“ inggih Abah…” jawab Wali Paidi..

… BERSAMBUNG…

By: Kang Zubat / Repost : Salam Nahdliyin

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
"Mencintai negara sebagian dari iman."

Baca Juga

Keramatnya Bendera NU

Bendera Nahdlatul Ulama berwarna hijau. Di dalamnya terdapat logo NU dengan khot berupa huruf Arab berwarna …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *