Home / AMALIAH NU / Tiga Amalan Penting dalam Bermasyarakat

Tiga Amalan Penting dalam Bermasyarakat

Jakarta, Dakwah NU
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. H. A. Helmy Faishal Zaini mengajak warga NU untuk melakukan tiga amalan penting yang paling istimewa di sisi Allah Swt. Dalam Quran Surah an-Nisa’ ayat 114 telah menyebutkan tiga hal yang dimaksud, yakni bersedekah, berbuat baik, dan membangun masyarakat yang damai, bersatu dan berkeadaban.

“Tidak ada gunanya kita ini beraktivitas, berorganisasi, ber-jam’iyyah, bermasyarakat kalau seluruh dimensi kegiatan kita tidak melahirkan tiga agenda penting,” tuturnya dalam Kajian MT Annisa yang diunggah Youtube NU Channel pada Ahad (20/12/20).

Aktivitas sedekah, yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah. Terkadang kita lupa bahwa ada sebagian harta kita yang menjadi hak bagi mereka, yang dapat menghindarkan dari tuju puluh bala’/musibah. Sebagaimana firman Allah pada Q.S Hud:114, menjelaskan bahwa perbuatan baik mampu menghapus dosa-dosa.

Mengutip perkataan Kiai kharismatik dari Jawa Timur, Kiai Ahmad Asrori Al-Ishaqi, “Musibah dan sedekah itu sebenarnya balapan. Kalau hari ini kita lupa bersedekah, musibah yang datang duluan. Tapi kalau kita hari ini aktif bersedekah, maka kita akan terhindar dari malapetaka.”

“Saya pribadi dan keluarga ketika menghadapi kesulitan, misal ada penyakit yang tidak sembuh-sembuh, biasanya potong kambing atau potong sapi. Tentu santunan anak yatim menjadi tradisi bagi kita, keluarga besar NU.” ungkap Gus Helmy bercerita.

Abu Hurairah ra meriwayatkan dalam Shohih Bukhari, diceritakan ada seorang perempuan PSK yang jelas pekerjaannya sangat tidak terpuji. Ia pernah menjumpai anjing yang kehausan di dekat sumur. Dengan penuh rasa iba, perempuan tersebut melepas sepatunya untuk mengambil air dan diberikannya pada anjing sehingga sehat bugar kembali. Allah memberikan ampunan kepada permpuan PSK ini dan kelak perempuan ini adalah penghuni surga.

Islam agama yang indah. Menolong seekor anjing saja sudah mendapatkan kebaikan yang luar biasa, lantas bagaimana ketika kita memberikan kebaikan bagi manusia? Q.S al-Maidah menjawab, “Barang siapa yang menyelamatkan nyawa seseorang, maka ia telah menyelamatkan manusia seluruhnya.”

“Kita tidak boleh menistakan seseorang berdasarkan profesinya. Karena kita tidak pernah tau, di sisi Allah makhluk ini mulia atau tidak. Kita tidak pernah bisa melihat seseorang dari profesinya mungkin sangat hina sekali, lalu kita merasa lebih baik dari dia. Kita tidak pernah tau bahwa dua rakaat itu mungkin diterima dan diampuni,” jelasnya.

Dalam urusan sedekah, terkadang muncul pertanyaan, ‘Kalau kita miskin, bagaimana bisa memberi bantuan kepada yang lain?’

Beliau menjawab, Islam mengajaran kepada kita untuk berdaya, baik secara ekonomi maupun pengetahuan. Menurutnya, pola pikir bahwa harta dan kekayaan akan dipertanggungjawabkan sehingga menjadikan manusia untuk hidup seadanya, miskin tanpa usaha yang berarti itu salah. Pandangan tersebut harus diubah, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang sukses agar dapat melakukan kebaikan-kebaikan, salah satunya bersedekah.

Menilik kisah pernikahan Rasulullah dengan Khadijah, maharnya adalah dua puluh ekor unta merah yang masing-masing harganya sekitar 60 juta. Hal itu menandakan bahwa kanjeng Nabi adalah saudagar yang sukses.

“Allah itu Maha cerdas. Dekatlah dengan-Nya, maka engkau menjadi cerdas. Karena Allah adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan, maka barang siapa mendekat pada-Nya maka akan terpancar ilmunya. Allah itu Maha Kaya, dekatlah pada-Nya maka engkau menjadi kaya. Karena Allah adalah sumber dari segala sumber Maha pemberi rizqi. Barang siapa taqarrub kepada-Nya, akan terpancar rizkinya,” terang Gus Helmy mengutip kalimat bijak dari gurunya.

Lebih lanjut, beliau mengajak warga Nahdliyyin untuk memanusiakan manusia, menghapus pola pikir yang salah yaitu senang menjadi manusia yang berkedudukan di kelas bawah. Justru kita harus melakukan upaya-upaya yang bermanfaat.

Rasulullah Saw. telah memberi kabar pada kita bahwa kehadiran beliau tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. “Ujung dari tegaknya akhlakul karimah adalah hhusnul mu’asyaroh, yaitu membangun kebersamaan menuju kebaikan,” tambahnya.

Sebagai warga NU di Indonesia, keberagaman umat Islam di Indonesia adalah menjalankan keislaman dan keindonesiaan dalam satu tarikan napas, artinya dilakukan secara beriringan tanpa membentur-benturkan agama dan budaya.

Mengenang perjuangan wali songo dalam mengislamkan tanah Jawa, pada masa itu masyarakat Jawa masih kental dengan budaya lokal. Ketika itu, para ulama tidak menggunakan senjata dalam berdakwah atupun lantas menyalahkan adat istiadat setempat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

“Jika Anda punya rezeki yang lumayan, maka sembelihlah seekor ayam atau kambing kemudian ajak tetangga dan orang terdekat, kemudian doa bersama, mohon keselamatan kepada Allah” ucapnya menyontohkan apa yang pernah dikatakan walisongo dulu.

Itulah kehebatan ulama-ulama Nusantara, menghadirkan Islam di Nusantara dengan cara yang luar biasa. Adapun permasalahan zaman sekarang di Indonesia adalah muncul kelompok-kelompok kontra, maraknya paham transnasional, mengatakan pemerintahan taghut dan sebagainya.

“Mari kita kembalikanlah kepada ulama kita. Mari belajar kepada guru dan Kiai yang benar, yang sanadnya ini terjaga hingga sampai ke Nabi Muhammad Saw,” harapnya mengakhiri

Post : Salam Nahdliyin

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
"Mencintai negara sebagian dari iman."

Baca Juga

DUNIA SEMENTARA AKHIRAT SELAMANYA

Allah ° menciptakan dunia ini untuk kita manusia namun kita diciptakan oleh Allah bukanlah untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *