Home / AMALIAH NU / BOLEHKAH PUASA SYAWAL DENGAN CARA DICICIL

BOLEHKAH PUASA SYAWAL DENGAN CARA DICICIL

Pasti ada di antara kita yang bertanya-tanya terkait puasa syawal, bolehkah puasa syawal yang 6 hari itu dilaksanakan dengan cara dicicil alias selang seling selama bulan syawal, atau harus dilakukan secara langsung 6 hari berturut-turut

Maka untuk jawabannya ialah bahwasannya puasa 6 hari di bulan syawal itu boleh dilakukan dengan cara dicicil atau selang seling, akan tetapi yang paling afdol atau lebih utama adalah dengan cara langsung/urut. Dan penjelasan terkait kebolehan puasa syawal yang dilakukan dengan cara dicicil bisa anda temukan dalam kitab Mawahibusshomd hal 73

Adapun terkait keistimewaan puasa 6 hari dibulan syawal dan tata caranya bisa anda temukan penjelasannya dalam Syarh Nawawi ala Muslim, berikut teks lengkapnya:

من شوال كان كصيام الدهر ) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من اهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعى وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح واذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال قال العلماء وانما كان ذلك كصيام الدهر لان الحسنة بعشر امثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي وقوله صلى الله عليه و سلم ( ستا من شوال ) صحيح ولو قال ستة بالهاء جاز أيضا قال أهل اللغة يقال صمنا خمسا وستا )

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Dalil ini yang dibuat pijakan kuat madzhab syafi’i, Ahmad Bin hanbal dan Abu Daud tentang kesunahan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal, sedangkan Abu hanifah memakruhkan menjalaninya dengan argument agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut…

Para pengikut kalangan syafi’i menilai yang lebih utama menjalaninya berurutan secara terus-menerus (mulai hari kedua di bulan syawal) namun andaikan dilakukan dengan dipisah-pisah (selang seling) atau dilakukan diakhir bulan syawal pun juga masih mendapatkan keutamaan sebagaimana hadits diatas.

Ulama berkata: “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan bahwa satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan, dengan demikian bulan ramadhan menyamai sepuluh bulan lain, dan 6 hari dibulan syawal menyamai dua bulan lainnya (6×10=60=2 bulan). (Syarh nawaawi ‘ala Muslim VIII/56. )

Wallaahu A’lamu Bis Showaab
__

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
"Mencintai negara sebagian dari iman."

Baca Juga

Menampakkan dan Menceritakan Amal Baik ke Publik

Rata-rata orang akan bilang, “Ibadah itu tidak perlu di pamerkan ke publik!” Karena menurutnya ibadah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *