Home / BERITA UTAMA / Menampakkan dan Menceritakan Amal Baik ke Publik

Menampakkan dan Menceritakan Amal Baik ke Publik

Rata-rata orang akan bilang, “Ibadah itu tidak perlu di pamerkan ke publik!” Karena menurutnya ibadah cukuplah dia dan Allah Swt yang tau. Masih kata mereka, “Masak, baca al-Qur’an, shalat dan belajar harus diumbar ke sosial media!” Bahkan kalau di pamerkan, menurutnya hal itu justru dapat menghilangkan semua pahalanya karena dia dianggap tidak ikhlas dan hanya ingin pamer semata.

Padahal memahaminya tidak sesederhana itu. Justru kita terkadang haram, lebih utama, atau bahkan wajib untuk menampakkan dan menceritakan semua amal ibadah kita ke publik. Semua itu berangkat dari ayat al-Qur’an surah al-Dluha yang memerintah untuk menceritakan nikmat Tuhannya. 

وأما بنعمة ربك فحدث

Para mufassir berbeda pendapat mengenai makna dari lafadz “nikmat” dalam ayat itu. Menurut Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya “Mafatih al-Ghaib” beliau mengatakan bahwa seharusnya amal baik itu diceritakan kepada publik agar manusia bisa menirunya. Dan pendapat ini banyak disetujui juga oleh mufassir-mufassir yang lain.

Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan;

من لم يشكر القليل لم يشكر الكثير، ومن لم يشكر الناس لم يشكر الله، والتحدث بنعمةالله شكر وتركها كفر، والجماعة رحمة والفرقة عذاب

“Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit maka dia tidak mensyukuri nikmat yang besar. Sedangkan menceritakan nikmat Allah merupakan bentuk syukur kepadanya. Dan barang siapa yang tidak menceritakannya, maka ia di anggap kufur terhadap nikmat Allah Swt.”

Namun perkataan orang-orang itu tidak semuanya salah dan tidak juga semuanya benar. Karena seperti apa yang sudah di jelaskan di atas bahwa hal itu terkadang haram, lebih utama bahkan wajib untuk di ceritakan.

Berikut penjelasan Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitabnya “Lathaiful al-Minan Wa al-Akhlaq Fi Wujubi al-Tahadduts Bini’matillah Ala al-Ithlak.” Kitab ini menjelaskan tentang nikmat-nikmat Allah yang wajib untuk di ceritakan kepada publik. 

Menurut beliau al-Sya’rani, berdasarkan ayat al-Qur’an surah al-Dluha itu manusia terbagi menjadi tiga bagian dalam menyikapi nikmat Allah Swt.

Pertama, adalah mereka yang sama sekali tidak di perbolehkan untuk menceritakan amal baiknya. Yaitu orang-orang awam yang nantinya mereka akan merasa riya’ dan sombong dengan amal baiknya.

Kedua, adalah mereka yang hukumnya lebih utama untuk menceritakan amal baiknya. Yaitu orang-orang yang tidak akan merasa riya’ atau sombong. Hanya saja mereka merasa takut riya’ atau sombong jika menceritakannya.

Ketiga, adalah orang-orang yang wajib baginya untuk menceritakan amal baiknya. Yaitu orang-orang yang sudah sampai pada maqam tinggi (al-‘Arif Billah) dimana mereka sama sekali tidak akan merasa riya’ atau sombong jika menceritakannya. 

Pada akhir pembahasannya beliau menyimpulkan;

فعلم أنه يجب على صاحب هذاالمقام إظهار جميع نعم الله عليه، والتحدث بها وعلم أيضا أن كل من لم يصل إلى هذه الحالة الثالثة فكتمان الأعمال الصالحة والأخلاقالحسنة في حقه واجب أو أولى خوفا عليه من دخول الأفات. 

“Kendati demikian, wajib bagi manusia yang sudah sampai pada maqam ini (maqam ketiga) untuk menampakkan dan menceritakan semua nikmat Allah. Begitu juga wajib bagi manusia yang belum sampai pada maqam ini (maqam pertama) untuk tidak menceritakan nikmat-Nya. Sedangakan untuk maqam kedua, baginya lebih utama untuk tidak menceritakannya karena khawatir akan merasa sombong.”

Kenapa harus diceritakan? Kenapa harus di umbar? Karena dengan itu orang lain akan mengambil manfaat dan pelajaran, agar orang lain dapat meniru kebaikan-kebaikanmu, agar orang lain dapat menyampaikan kembali kebaikan itu pada orang lain juga. Minimalnya, agar orang lain senang pada orang yang berbuat kebaikan. Atau setidaknya itu bermanfaat untuk diri kita sendiri, istri dan anak cucu kita kelak.

Malang, 21 Mei 2021

Salsabillah-Ukhuwah Islamiyah

Share Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About NU Muda

NU Muda
"Mencintai negara sebagian dari iman."

Baca Juga

CIRI – CIRI HAMBA YANG DICINTAI ALLAH SWT

Dalam satu hadis Nabi SAW, Beliau bersabda: “Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *